GEDE-PANGRANGO, SI KEMBAR YANG MEMBIUS

Draft post ini udah berbulan-bulan terlantar, penghuninya sibuk mencari sekarung berlian, sesuap nasi. Kali ini aku mau nyeritain gimana gokilnya naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali, kiri kanan…. STOP!!! Bacanya jangan sambil nyanyi!!! Keputusan yang membuat rumput pada bergoyang ini memang sudah jauh waktu ingin segera terealisasi. Cuman bermodalkan internet (kantor), dengan semangat 45 aku nyari berita dari segala penjuru (ah elah,, udh kayak biksu Tong mencari kitab). Dan akhirnya peta pendakian dan itenary trip ala ala kelar. Itu semua aku yang nyiapin bukan si DORA.

Kalimat “Mendaki dapat menyebabkan ketagihan” menurutku terbukti. Meskipun lelah tak bisa dihindari, kaki hampir lepas dan pengen balik ke atas kasur, tapi pada saat warna merah dikalender berjejer manis yang berdampingan dengan weekend, siapa sih yang bisa nolak ketika hati kecil berbisik “Muncak nyokkk!!”?

PERSIAPAN

Sebelum hari-H (tanggal 5-8 Mei 2016, 6 bulan yang lalu, dan baru di post sekarang) aku ngajakin para abang-abang untuk rapat kecil, ngebahas tentang itenary, transport, dan segala perlengkapan pendukung. Semuanya udah clear, itenary disetujui, perlengkapan pendukung tinggal diambil, dan untuk transport kita sepakat meeting point-nya di Kp. Rambutan (meeting point andalan yang mau muncak).

Ya, namanya juga orang endonesah, nggak sah kalo nggak ngaret. Keberangkatan molor berjam-jam dari waktu yang udah ditentuin, ngga bisa protes juga sih, karna keadaan lalu lintas yang emang udah terkenal dengan macetnya, aku cuman ngelus dada – sambil minum es cendol.

Karena jalur pendakian yang kita pilih itu naik via Gunung Putri dan turun via Cibodas, akhirnya kita naik bis jurusan Jakarta-Bandung/Cianjur turunnya di pasar Cipanas. Dari tempat kita diturunin, dengan segala keahlian nego kita keluarin biar bisa dapet ongkos angkot yang murah buat nganterin kita ke basecamp Gunung Putri.

PERIJINAN

Gunung Gede-Pangrango merupakan gunung di Jawa Barat yang masuk di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kedua gunung ini memiliki ketinggian yang berbeda. Gunung Gede memiliki ketinggain 2.958 Mdpl, sedangkan Gunung Pangrango memilki ketinggian 3.019 Mdpl dan termasuk gunung tertinggi ke dua di Jawa Barat. TNGGP adalah kawasan lindung yang mempunyai peranan penting dalam sejarah konservasi di Indonesia yang juga merupakan zona inti Cagar Biosfer Cibodas. Ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980, kawasan ini mempunyai kontribusi signifikan terhadap pengurangan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, integrasi pengelolaan kawasan lindung di cagar biosfer sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan daerah sekitarnya. Dengan luas 22.851,03 hektar, kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan, hanya berjarak 2 jam (100 km) dari Jakarta. Keadaan alamnya yang khas dan unik, menjadikan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama.

Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu gunung di jawa yang cukup ketat dalam pemberian ijin pendakian. Ada 3 jalur resimi untuk mencapai Puncak Gunung Gede maupun Pangrango yaitu Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana. Pendakian kali ini, kita memilih naik via Gunung Putri dan turun via Cibodas. Sebagai asumsi agar keindahan alam yang tersaji bisa sekaligus dinikmati. Gunung Gede Pangrango bisa dikatakan sebagai salah satu gunung dengan perijinan paling rumit di tanah jawa, karena kita harus daftar secara online dan melakukan validasi untuk mendapatkan simaksi secara on the spot. Tata cara pendaftaran dan untuk lebih lengkapnya bisa langsung mengunjungi websitenya. Disini.

JALUR GUNUNG PUTRI

1480137931764
Personil amatiran 😀 Kak Arya, Iyus, Aku, si Abang, dan Kak Yogi

Kira kira 30 menit jalan kaki dari basecamp ke pos Gunung Putri. Nah, di Pos Penjagaan Gunung Putri (1.450 mdpl) ini lah para pendaki wajib melapor dan menunjukkan surat – surat perijinan. Kemudian akan dilakukan pemeriksaan barang-barang bawaan. Ada beberapa barang yg dilarang seperti pisau, sabun, radio, odol, dll, jika kedapetan membawanya maka petugas akan meminta barang tersebut. Untungnya kita cuman bawa sabun pencuci muka yang mau ngga mau harus rela berpindah tempat ke meja pos penjagaan. Pada saat keluar Taman Nasional juga akan dilakukan pemeriksaan kembali serta W-A-J-I-B memperlihatkan sampah yang dibawa turun sisa-sisa pemakaian kita sendiri.

Pendakian awal berupa jalan setapak yang melintasi kebun penduduk setempat. Kita mulai pendakian sekitar jam 03.00 WIB, jadi yang kelihatannya cuman senter para pendaki lain, bukan hijaunya kebun.Selanjutnya akan menyeberangi sungai kecil. Setelah melewati sungai jalur mulai menanjak dan kita akan menemukan pipa air minum yang disalurkan untuk keperluan penduduk sekitar. (Napas mulai sedikit ngos-ngosan)

Sekitar satu setengah jam perjalanan dari pipa air pendaki akan sampai di Pos Tanah Merah di ketinggian 1.850 mdpl. Meskipun dinding dan lantainya sudah banyak yang bolong tapi atapnya masih bagus sehingga dapa digunakan.

1480137553542
Karena tanah yang datar bisa menjelma menjadi kasur yang empuk. Secangkir kopi sederhana sama menyenangkannya dengan yang merek terkenal.

Jalur semakin menanjak dan mulai melintasi akar-akar pepohonan, hutan yang semakin lebat buat aku tiba-tiba ngebayangin hal-hal aneh, ternyata ketakutan sesaat. Dipertengahan perjalanan kita memutuskan untuk istirahat sebentar dan akhirnya ketiduran pulas, bangun bangun udah jam 10 telat ngantor. Hahaha, bukan dong ya. Back to the story – Pas bangun ternyata hari udah mulai terang, dan “ngopi cantik” ala ibu sosialita (nggak kebayang gimana rempongnya mereka ngopi di gunung). Pos selanjutnya, kita sampai di Pos Legok Lenca diketinggian 2.150 mdpl.

1480137558663
Pos Legok Lenca

Jalur berikutnya semakin curam dan licin terutama di musim penghujan, ketika melewati medan yang sempit kita harus ke pinggir dulu jika ada pendaki dari arah berlawanan. Pos selanjutnya adalah Buntut Lutung yang berada di ketinggian 2.300 mdpl. Tempat ini agak luas jida bisa beristirahat lagi. (kalimat paling ditunggu ketika mendaki adalah BREAK YA). Jarang ada pendaki yang mau membuka tenda di sepanjang jalur gunung putri. Tempatnya yang sempit dan tidak ada sumber air, pendaki lebih suka bersusah payah sekuat tenaga untuk sampai di Alun-Alun Surya kencana dan berkemah di sana.

1480137535058
Makan pop m*e aja di hutan. Sabi ngga tuh?

Sebelum sampai di Alun-alun Surya Kencana jangan kaget jika masih harus melewati dua pos lagi yakni Pos Lawang Seketeng (2.500 mdpl) dengan medan yang semakin terjal dan semakin menguras tenaga, serta Pos Simpang Maleber (2.625 mdpl).

1479949507291
Kaki yang melangkah lebih jauh dari biasanya. Yang duduk di depan itu ketua tim kita, dia rela jagain kita yang ketiduran dari lalu lalang pendaki lainnya. Hihihihi

Dari Pos Penjagaan Gunung Putri sampai Pos Simpang Maleber, aku lupa udah berapa kali kita istirahat saking banyaknya (Jalan 10 menit istirahat 1 jam), dan udah berapa kali buang air saking lelahnya. Bahkan, ketika kantuk sudah tidak bisa diajak kompromi, jalur lintasan pun kita jadikan lahan untuk tidur barang sejenak (ternyata lama). Di Pos Simpang Maleber ini ada berupa bangunan untuk duduk yang dilengkapi dengan atap yang disangga satu tiang seperti payung. Dari Pos Simpang Maleber jalur lintasan sudah landai alun-alun Surya Kencana sudah nampak di depan mata. Hari udah mulai gelap dan tenaga udah hampir habis, cuaca semakin dingin.

Dari kejuhan sudah terdengar suara riuh pendaki lainnya, dan asumsiku kita sudah hampir sampai di Alun-alun Surken, karena dari kita berlima, belum ada yang pernah malukan pendakian ke Gunung Gede ini. Dan benar saja, lampu dari tiap tenda mulai terlihat cahaya temaramnya, itu sebagai penunjuk jalan. Kekalutan akan resa lelah, sedikit demi sedikit hilang dan berbekas di sekujur tubuh.

Kita mulai membuka tenda. Masing masing punya tugas sendiri, dan tugasku menyenteri para pria tangguh di tengah hawa dingin untuk membangun dua tenda sekaligus. Kita putuskan untuk tidur pulas, mempersiapkan jiwa dan rega biar esok harinya bisa nikmatin samudera awan dan matahari terbit.

PUNCAK… PUNCAK!

Alarm bunyi jam 03.00 pagi. Aku udah bangun, karena jangan harap bisa tidur nyenyak, bukan masalah banyak nyamuk atau berisik, hawa dingin rasanya seperti menusuk-menggeliti-mencabik seluruh badan, aku kira butuh 3 lapis jaket dan 2 lapis sleeping bag biar dinginnya nggak begitu mengusik.

Dengan alasan kita berempat tidak ada yang tahu jalur lintasan menuju puncak, dan satu orang ternyata hanya sedikit ingat, akhirnya kita ikut rombongan pendaki yang lainnya (dan tetep aja aku diurutan paling belakang dan si abang disampingku).

Lokasinya dari Kilometer-0 (tempat keramaian Alun-Alun Surya Kencana) kita kekanan, kemudian mendaki bukit terjal berbatu yang banyak ditumbuhi bunga edelweis. Kurang lebih satu setengah jam sampai dua jam pendakian. Dan lagi-lagi aku paling belakang, dan si abang di belakangku tetap setia menyemangati. Karena itu adalah sunrise pertamaku, aku selalu berusaha mengalahkan lelah. Suara ramai dari atas puncak sudah terdengar, aku semakin mempercepat langkah, nyatanya tetap saja lamban. Yang terpenting, aku berhasil melihat sunrise pertama, menyaksikan betapa megahnya ciptaan Sang Maha Kuasa. Layaknya adegan didrama sinetron, tangis haruku pecah. Bersyukur memiliki seseorang yang setia menyemangati dari belakang, bukan menarik atau mendorongmu secara paksa, tapi dengan meyakinkanmu kalau kau mampu, meskipun rasa menyerahmu hampir berhasil memenangkan pertarungan hatimu untuk berhenti atau lanjut.

1480137755972
Matahari dan samudera awan
1480137517095
Yes, we did it!

Cekrekk… cekrekk… take a pict everywhere…

1462672839236
This is it,, personil amatiran pendakian Gede-Pangrango. Nggak usah diperjelas, sadar kok wajah aku “ngga banget”. Dibelakang kita pemandangan Gunung Pangrango.

And again… and again… and again…

1480137509849
Bukan prewed kok,, cuman pose sederhana doang..

Oiya, penyakit aku ketika di puncak itu ketika perut tidak bisa diajak kerjasama dan akhirnya meninggalkan jejak di semak-semak sekitar pepohonan. Jangan lupa bawa tisu basah. Terus kalau lupa gimana? Yaudah, silahkan cari benda yang bisa ngebersihinnya. Pokonya di gunungitu semuanya spontanitas, asal ada lahan dikit, terus gak ada pendaki lain yang lalu-lalang, dan ingat harus ada yang bantu ngejagain, take your time buat buang hajat. Jorok? Bodo amat, kalau mau bersih sih bawa WC sendiri ke atas, ngga ada waktu buat manja-manjaan. Namanya juga di gunung, ya waktunya menyatu dengan alam.

1480137498330
Keliatan ngga semak-semak yang di bealakang kita? Iya, disitu aku ninggalin jejak 😀

ALUN-ALUN SURYA KENCANA

Setelah puas bernarsis ria, kita melakukan pendakian ulang melewati jalan batu terjal yang sebelumnya dilewati. Hari sudah terang, dan terlihat kanan kiri bunga edelweis. Aku hanya menikmati keindahannya, tidak ada rasa sedkitpun buat memetiknya. Ingat ya, edelweis tidak boleh dipetik, apalagi diperjual belikan.

1480137484379
ekspresi bahagia bisa muncak bareng

Ketika menuju balik ke tenda, tampak alun-alun surya kencana yang membuatku berdecak kagum, sungguh indah ciptaan-Mu. Padang edelweis yang luasnya kurang lebih 50 hektar ini, seakan menghipnotis untuk tidak sedikitpun mengalihkan pandangan darinya. Kecantikan, kemegahan, dan mitologinya yang menjadikan tempat ini sebagai destinasi favorit para pendaki.

img_20160717_221924-2
Padang Edelweis..

Sesampainya di tenda, masing-masing dari kita repacking peralatan. Dan ketika semua selesai, kita sarapan di satu wadah yang sama, kalau aku sih bilangnya makan berjamaah. Asli itu nikmat banget. Menu kita cuman nasi, abon, stik kentang balado, kacang s*kro, dan itu termasuk kategori makanan mewah vrohh…

1480137481327
satu wadah, serbu rame-rame, perut kenyang hati senang.

CIBODAS? OH NO!

1480137479152
jangan lupa bawa sampah turun

Sarapan selesai, repacking kelar, sampah siap diangkut, waktunya menyusuri jalur Cibodas untuk balik ke dunia nyata. Aku udah ngebayangin bakalan banyak bonus di sepanjang jalur cibodas. Tapi, tunggu dulu. Semuanya bakalan ketahuan ketika tulisan ini sampai pada titik terakhirnya.

photogrid_1468821580265-2
keahlianku terlalu peka sama kamera yang mau ambil gambar

Kita mulai jalan turun sekitar pukul 12.00 WIB. Jalur lintasan yang dilewati masih dalam kata wajar, meskipun sesekali beristirahat. Sampai pada satu tempat yang biasa disebut Turunan Setan, tempat ini sangat terjal dan dilengkapi dengan tali baja. Para pendaki bergantian antri, namun kita memilih jalur lain yang tidak kalah terjalnya, mungkin bedanya terdapat pada ketinggiannya.

1462672863276
jalan pintas yang dianggap pantas, ciee.. si abang mau nangkep…

Setelah jalan sejauh kaki melangkah, dan baru kali itu aku lari menurun di gunung ketika lintasan berupa tanah bukan bebatuan, kita akhirnya sampai di Pos Kandang Badak. Kaki udah kayak mati rasa, hari udah mulai gelap, dan persedian air minum menipis. Kita istirahat sebentar sembari yang lain ambil air di aliran air yang bersih. Di Pos Kandang badak ini banyak pendaki yang membangun tenda, namun jangan harap kebagian tempat jika tiba di tempat ini pada waktu hari sudah gelap.

Meski dalam keadaan gelap dan hanya mengandalkan headlamp, kita tetap melanjutkan perjalanan ke Kandang Batu. Di tempat ini kita mulai berdebat mau dilanjutkan atau bermalam lagi. Lahan sudah penuh dan tidak ada tempat lagi untuk membangun tenda. Pikiran kita udah mulai berkecamuk, tiba-tiba lewat pendaki lainnya yang ingin turun. Kita pun ikut bersama rombongan mereka. Aku menganggap mereka penolong yang menyebalkan, pasalnya kaki mereka seperti robot tanpat limit batre, sementara kakku hampir mau lepas saking lelahnya. Dan salah satu dari mereka memangilku “Mpok”.

Aku tidak begitu melihat dengan jelas apa yang sudah dilalui, aku hanya mengingat dengan jelas ketika kita melewati lereng curam yang dialiri air panas. Meskipun terdapat pegangan merupakan rantai besi, namun salah sedikit saja bisa berakibat fatal, jalanan sempit dan licin, kita hanya berpijak pada batu-batu untuk melewatinya, sisi kiri merupakan jurang, suara air terjun yang begitu gemuruh menyamarkan teriakan panikku, menanyakan kondisi mereka yang berjalan di belakangku. Lintasan merupakan bebatuan di aliran air panas, uap air panas sangat mengganggu penglihatan. Makanya jika melewati jalur ini di malam hari, perhatikan langkahmu, berjalanlah dengan sabar dan jangan terburu-buru, saling menunggu satu dengan yang lainnya. Situasi saat itu benar mencekam. Tidak, ini bukan menakuti, mungkin karena ketika kita melawati jalur lintasannya saat itu pada malam hari, namun jika melewatinya pada siang hari atau hari masih terang, suasana akan berbeda, kita bisa lebih menikmati pemandangannya.

Kita melewati Pos Pondok Pemandangan, dan memutuskan untuk terus berjalan karena jam sudah menunjukan pukul 22.30 WIB. Lintasan tanah yang alami berubah menjadi jalan setapk berbatu hingga di Pos Batu Kukus. Istirahat sebentar kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

Terdengar suara ramai para pendaki, kita sampai di Pos Panyancangan Kuda. Terdapat bangunan beratap yang bisa digunakan untuk beristirahat, namun pendaki yang egois banyak yang membuka tenda di dalam bangunan ini. Kita istirahat cukup lama di pos ini sembari seruput teh hangat dan selembar roti tawar. Jalur lintasan selanjutnya masih berupa jalan setapak berbatu dan berganti dengan jembatan kayu yang panjangnya kurang lebih 1 km, jalur jembatan kayu ini sudah mulai rusak, dan banyak kayu yang sudah terlepas, pendaki harus berhati-hati agar tidak terpeosok jatuh ke bawah.

Setelah melewati jembatan kayu, kita sampai di Pos Rawa Gayang Agung. Perjalanan masih harus dilanjutkan. Kita melintasi kawasan hutan tropis, dan masih dengan jalur setapak berbatunya.

Di jalur Cibodas ini, terdapat banyak pos dengan bangunan beratap yang sangat bermanfaat bisa dijadikan tempat beristirahat. Sebaiknya jangan membuka tenda di dalam bangunannya karena akan mengganggu pendaki lainnya yang ingin berteduh.

Kurang lebih jam 03.00 WIB kita sampai di pos penjagaan. Di pos ini disediakan tempat sampah untuk sampah yang kita bawa turun. Dan akhirnya perjalanan selesai di basecamp Green Ranger. Kita memutuskan balik ke jakarta dengan angkot charter sampai stasiun Bogor, kemudian naik kereta menuju Jakarta dengan stasiun pemberhentian masing-masing.

Siapa yang bisa memprediksikan jika pendakian kali ini sanagat melelahkan, mengesampingkan ego, bertarung dengan lelah, hawa dingin, dan masih di dalam hutan ketika malam beranjak dini hari. Butuh waktu sekitar 15 jam untuk pendakian super santai dan 15 jam untuk turun gunung ekstra santai. Out of expectation, dan bener-bener keluar dari itenary yang udah dibuat. Hahahaha.

Setiap pendakian memilki ceritanya masing-masing. Suka duka yang dirasakan bersama-sama akan membentuk karakter bagi pribadi kita. (baca juga : Gunung Prau – Dieng )

Tinggalkan jejakmu, simpan kenanganmu, abadikan gambarmu.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s