Pulau Kecil Kelam yang Menawan – Pulau Kelor

(Bagian Pertama)

Sebut saja ini dengan kunjungan spontanitas.

Tidak ada dalam list rencana menjelajahi pulau dan seharusnya libur panjang lalu dijadwalkan untuk pendakian gunung Cikuray. Segala persiapan sudah hampir 100%, tapi kenyataannya kita gagal berangkat akibat beberapa pertimbangan. Selain faktor cuaca yang tidak mendukung, ternyata tenda yang sudah disewa masih banyak minusnya. Tidak mau mengambil resiko, trip pendakian Cikuray kita batalkan. Ya, mau gimana lagi,, dipaksakan juga bakalan beresiko fatal kan??

Kalimat sakti yang menyebutkan ‘banyak jalan menuju Roma’ berhasil membuat keadaan hati merasa baikan. Akhirnya tanggal 10 Desember lalu saya dan abang registrasi untuk mengikuti ‘One Day Trip 3 Pulau’ H-1 sebelum keberangkatan. Dan beruntungnya kuota peserta masih bisa diisi untuk 2 orang lagi.

Wisata sejarah ini baru pertama kalinya kita ikuti. Tidak pernah terlintas sebelumnya untuk menghabiskan libur weekend di pulau-pulau kecil yang mempesona namun meyimpan sejarah kelam. Pastinya bagi yang suka jalan-jalan, wisata sejarah harus dijadwalkan dalam agenda liburan dong ya… Apalagi jika waktu libur hanya di hari minggu, sementara pikiran udah jenuh akibat rutinitas membosankan, It’s mean harus pinter cari tempat liburan yang mengesankan meski hanya punya waktu satu hari. Nah, One Day Trip 3 Pulau ini bisa dijadikan alternatif menghabiskan weekend singkat, selain itu kita juga bisa traveling time ke ‘masa lampau’ kan..

Untuk biaya trip yang ditawarkan bervariasa sesuai dengan fasilitas yang disediakan. Kebetulan kali ini kita mengikuti one day trip dari Indowalker (@Indowalker) dengan biaya 100k. Biayanya terjangkau dengan fasilitas yang memuaskan, mulai dari transportasi kapal motor untuk menjelajahi tiga pulau, tiket masuk, hingga makan siang. Uniknya makan siangnya tidak seperti yang saya bayangkan, biasa kalau one day trip seperti itu makan siang yang disediakan berupa nasi bungkus, tapi tidak dengan trip ini. Kita menikmati hidangan prasmanan dan bisa mengambil sesuka hati tanpa di batasi. Menariknya lagi, kerang hijau yang menggugah selera disediakan berpiring-piring. Jika tidak mau repot-repot memikirkan budget, itenary, dan transportasi, maka mengikuti open trip seperti ini adalah pilihan jitu. Tinggal bayar, datang, nikmati alamnya.

1481450251292
Kak Wulan, Kak Windy, Me 🙂

Meeting point bertempat di Muara Kamal. Kita menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari daerah Rawa Belong-Jakarta Barat untuk mencapai tempat tersebut dengan motor bebek si abang. Hari cerah namun sinar matahari tidak begitu menyengat. Keadaan di Muara Kamal sudah ramai dengan para peserta trip. Dan satu kejutan tiba-tiba datang. Saya bertemu dengan salah satu peserta one day trip Gunung Batu, Kak Wulan, setahun silam. Tapi, kita join trip dengan penyelenggara yang berbeda. Menariknya, pertemuan itu seperti takdir unik dari Allah. Nah, ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk sampai di Muara Kamal :

  1. Halte busway Harmoni naik arah Kalideres turun di halte Rawa Buaya atau perempatan Cengkareng kemudian naik angkot plat hitam arah ke muara kamal. Turun sebelum pasar, jalan kaki lewat pasar ikan ke tempat pelelangan ikan (TPI ). Mesjid Nurul Bahar berada 50 meter di belakang TPI.
  2. Kalau naik motor, jalurnya sama dari harmoni ke rawa buaya atau perempatan cengkareng. Dari perempatan cengkareng tanya jalan Kamal Raya atau dadap (arah Bandara) trus tanya GOR atau Stadion Kamal dekat SMPN 120 Jakarta, lalu tanya TPI (tempat pelelangan ikan) ada tower warna biru sebagai penandanya, arah ke TPI nanti lewat pasar ikan. Dari TPI tanya mesjid Nurul Bahar sekitar 30 meter di belakang TPI. Ada lahan sedikit di depan Mesjid Nurul Bahar untuk menitipkan motor.
  3. Kalau naik Grab, Uber atau Ojek online patokan alamatnya Stadion Persitara (Stadion Kamal), jangan ketik Kamal Muara nanti malah nyasar. Dari Stadion Persitara tinggal lurus ke pasar ikan sekitar 300 meter di depan (jangan masuk ke stadion).

Kita berangkat tepat waktu sesuai itenary. Perahu tradisional dengan mesin diesel yang membawa kami menjelajahi tiga pulau. Ada banyak perahu-perahu serupa yang tertambat di dermaga Muara Kamal. Pemandangan kontras seakan membius saya untuk melihatnya. Diseberang kampung nelayan berdiri kokoh gedung-gedung pencakar langit, hingga pemandangan jembatan baru bercat putih menghubungkan kawasan Baywalk Pluit dengan pulau hasil reklamasi. Alat-alat berat masih terlihat melakukan aktivitasnya mengeruk pasir meskipun media memberitakan pemberhentian reklamasi di Teluk Jakarta.

Ombak yang seolah mengayun kapal berhasil membuat saya sedikit mual. Aktivitas nelayan di Teluk Jakarta menjadi hiburan tersendiri selama berada di kapal motor itu. Banyak rumah terapung yang di buat oleh nelayan setempat untuk menangkap ikan dengan jaring. Perjalanan sekitar tiga puluh menit mengantarkan kami ke kunjungan pulau yang pertama. Dari kejauhan terlihat Benteng Martello yang merupakan ikon dari Pulau Kelor. Air berwana hitam pekat pun berubah menjadi biru kehijauan, apalagi perpaduan dengan pasir putihnya membuat Pulau Kelor semakin menawan.

Dulunya Pulau kelor dikenal dengan nama Pulau Kherkof yang berarti halaman gereja atau kuburan. Pulau yang luasnya kurang lebih 2 Ha ini terdapat sisa reruntuhan benteng yang dibangun VOC pada abad ke-17 bernama Benteng Martello. Benteng Marello menjadi saksi yang masih tersisa untuk mengingatkan pengunjung bahwa pulau ini pernah menjadi pertahanan terdepan untuk menahan musuh yang ingin menyerang Batavia. Bangunan Benteng Martello dibangun dari susungan bata merah melingkar menyerupai Benteng Mortella di Corsica, sebuah pulau di Laut Tengah, fungsinya untuk mengawasi lalu lintas kapal dagang dan mendeteksi apabila ada kapal musuh yang mendekat. Dulunya Benteng Martello ini sangat luas, namun sekarang yang tersisa hanya reruntuhannya saja. Tentunya hal ini disebabkan faktor usia dari benteng dan meletusnya Gunung Krakatau mengakibatkan sebagian pulau hancur dan terkikis

whatsapp-image-2016-12-18-at-21-12-43
fokusnya ke Benteng Martello aja, jangan ke kakak ituuuuu x_x

Disekitar Banteng Martello ada beberapa gazebo yang bisa digunakan untuk berteduh dari terik matahari karena Pulau Kelor tidak begitu banyak ditumbuhi pepohonan. Banyak lubang-lubang yang dulunya dijadikan tempat meriam menjadikan Benteng Martello menarik perhatian wisatawan memanjat ke atasnya. Oleh sebab itu, sebelum tiba di Pulau Kelor, pemandu kita sudah mewanti-wanti untuk tidak memanjat ke atas bangunan Benteng Martello, dikarenakan bangunannya yang sudah rapuh.

Benteng Martello dan kawasan sekitarnya menjadi spot bagus untuk berfoto atau melakukan sesi pemotretan prewedding. Sayangnya, tidak ada informasi khusus mengenai berapa tarif untuk melakukan prewedding di lokasi ini. Selain itu, beberapa orang terlihat memancing di tiang pemancang pemecah ombak, hebatnya mereka bisa berdiri atau berjongkok dengan seimbang, tidak gentar dengan ombak yang berkali-kali menghantam. Tidak ada alasan bagi pengunjung untuk membuang sampah sembarangan, karena di Pulau Kelor ini banyak terdapat tempat sampah yang disediakan. Waktu dua jam untuk mengitari Pulau Kelor sudah cukup sebagai pemuas rasa ingin tahu.

Here we are… some of our pict.. semoga bisa membuat yang baca penasaran dengan Pulau Kelor dan akhirnya mutusin buat kesana 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Pulau Kecil Kelam yang Menawan – Pulau Kelor

    1. Iya mba.. kalau di Pulau Kelor tepi pantainya bagus mba.. 😊😊
      Hehehe, kbtulan ak lupa potoin moment ngambil makannya.. udh keburu laper dluan,, plus lagi ikan bakar sama kerang hijaunya itu mnggugah selera 😀😀😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s