Sebuah Esensi yang Terlewatkan

Saya hanya memiliki waktu satu jam untuk menulis ini disela deadline yang semakin mengejar, jadi jangan berharap banyak.

Saya berdiskusi sendiri dengan hati sebenarnya apa yang ingin saya raih. Angka dua puluh tiga itu sedang dalam perjalanan, hanya beberapa jam lagi ia tiba. Mereka bilang angka dua puluh tiga merupakan representasi dari kedewasaan yang hampir matang. Ya, hampir matang dalam menentukan pilihan, lebih matang dalam membuat keputusan, lebih matang dalam bertindak. Tapi, saya tidak begitu yakin.

Angka satu hingga dua puluh satu sudah berkumpul menjadi barisan bingkisan masa lalu yang tak ubahnya seperti alunan kenangan yang jika dimainkan tidak sedikit pula nadanya yang sumbang. Dan sebentar lagi dua puluh dua akan pamit untuk masuk kedalam barisan. Ketika saya berada di dalam lingkaran angka sembilan, riuh rentah suara tepuk tangan dan lagu dari trio kwek-kwek ikut mengiringi berlalunya hari, balon bertebaran dimana-mana menjadi oleh-oleh untuk mereka yang bergembira datang. Gundukan kado dan amplop menjadi penantian tersendiri saat tamu berhamburan keluar. Gaun putih yang membaluti tubuh, rambut saya yang dibentuk seperti sanggul donat, hingga hiasan make up menjadikan saya seperti putri dalam sehari. Sungguh indah momentum itu, hingga setiap detik pada waktu itu, sulit untuk dipisahkan dari ingatan. Ya, masa dimana tidak banyak hal yang harus dipikirkan, masa dimana kehadiran saya sedikit yang tak menghiraukan.

Semakin bertambahnya angka, semakin menyadarkan saya tentang esensi dari hari lahir. Bukan lagi tentang berapa orang yang mengingat tanggal itu, bukan juga tentang siapa yang mengucapkannya untuk pertama atau yang terakhir kali, bukan pula tentang surprise party yang dihiasi bingkisan berbentuk kotak, lonjong, atau bulat. Hari esok tak hanya milik saya, tapi juga milik Ibu saya. Seorang perempuan yang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan saya. Begitu besar ketulusan kasih sayang Ibu saya, darah dan peluh bercampur menjadi satu, pada tanggal itu, pada waktu itu. Mengaduh namun bukan mengeluh, dengan nafas yang tersengal ia berjuang untuk saya agar dapat menikmati hidup. Meregang nyawa, ah… sungguh tidak sanggup saya membayangkannya.

Setiap kali saya berpikir untuk membenci angka yang bertambah satu setiap tahunnya, membenci tanggal yang saya anggap orang lain saja tidak mengistimewakannya, namun saya mengurungkan niat itu. Bayangan bagaimana ibu saya bertaruh dengan nyawa, bagaimana ibu menantikan saya, kadang luput dari pemikiran. Meskipun banyak yang tidak memperdulikan kehadiran saya, namun tidak dengan Ibu, terbukti dengan pengorbanannya melahirkan saya, maka saya adalah istimewa, meski hanya untuknya.

Esensi yang terlewatkan, bingkisan yang lebih mahal hingga tak ternilai harganya; Terimakasih Ibu untuk tanggal dimana engkau lebih memilihku.

Advertisements

One thought on “Sebuah Esensi yang Terlewatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s