Masa Lalu

Jika dengan mebenturkan kepala segala permasalahan dapat terselesaikan, mungkin aku akan menjadikan itu cara jitu dalam hidup. Hanya benjolan kecil, masalah semua hilang seperti debu yang tertiup angin, entah kemana, tak taulah. Heiiiii!!! Ini bukan kehidupan semaunya aku. Jika segala sesuatunya sesederhana pemikiranku, bisa saja aku menciptakan duniaku sendiri, tapi tidak, kita hidup untuk mengikuti rules yang sudah ada. Seperti yang diajarkan setiap agama, menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Pertanyaan yang selalu memenuhi kepalaku adalah SUDAHKAH?

Apakah melepaskan sudah menjadi takdirku? Bukan, ini bukan perkara perasaan. Untuk perasaan aku sudah memepercayakannya pada satu pria. Lebih dari itu, ini kesalahan di masa lalu. Begitu mudahnya aku melepaskan apa yang sudah kuraih, begitu gampangnya aku melontarkan pernyataan itu tanpa memeperdulikan bagaimana respon kedua orangtuaku dan orang terdekat, tanpa menghitung berapa banyak biaya yang sudah dihabiskan. Ya, aku sadar ini adalah kesalahan terbesar dalam hidup. Kesalahan fatal yang tidak mungkin aku memperbaikinya. Aku menyesal tentang itu, sungguh!

Kalau saja dulu, aku tidak sampai pada titik stres yang menggila, mungkin banyak hal yang bisa ku raih. Banyak kebanggan yang bisa kupersembahkan untuk kedua orangtuaku. Kalau saja dulu, aku tidak mengikuti amarahku, kalau aku masih berpikir secara logis bukan emosi sesaat, mungkin… Ah sudah lah, berbicara “kalau saja dulu” sama saja berharap mesin doraemon ditemukan di abad ini. Mustahil.

Sekarang, aku harus memulainya dari 0. Benar-benar dari 0. Fokusku tidak bisa penuh karna ada hal lain yang sebenarnya menjadi faktor utama sebagai pendukung. Aku takut jika salah pilih lagi. Ya, jangan meneceramahi aku dulu, karena ketakutan itu sudah aku buang jauh, bukan untuk dijadikan alasan suatu waktu. Aku bertekad tidak ada kekecewaan lagi yang aku torehkan untuk mereka. Sudahlah, hatiku terlalu lelah mendengar cemoohan itu, tentang masa lalu ku yang berdampak besar bagi “masa depanku” sekarang. Saat ini, aku sedang berjuang memperbaikinya, aku butuh dukungan bukan kekhawatiran.

Depresi? Terkadang aku merasakannya. Seolah menjadi hantu dalam pikiranku, memaksaku melamun dan lagi-lagi meratapi penyesalan, dan beberapa kali menikmati ruang kosong dalam lamunan yang anehnya malah menenangkan. Jika sebuah pertanyaan diajukan untukku, bagaimana bisa deperesi menenangkan? Entahlah, aku tidak paham mengenai ilmu kejiwaan, tapi itu yang kurasakan. Jangan takut, jiwaku masih normal meskipun sering terjadi guncangan.

Aku sadar kehidupan bukan hanya untuk menyesali masa lalu. Banyak kejutan dalam hidup yang sering kali tidak pernah tau “kejutan” apa yang akan datang. Apa yang telah (dengan sengaja) aku lepaskan dan apa yang sudah aku dapatkan saat ini merupakan “kejutan berharga” yang berpesan bahwa setiap kehidupan tidak akan pernah tau apa yang akan ia dapat. Jangan pernah berhenti bersyukur untuk apa yang telah terjadi, semua adalah pembelajaran.

Jika tak pernah merasakan jatuh, dari mana kita belajar rasa sakit. Ya kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s