BADAI

Ada kalanya rasa ingin menyerah itu menyergap. Sekali, dua kali, bahkan berkali-kali. Ketahuilah hatiku tidak terbuat dari batu, pun begitu juga dengan manusia yang lainnya. Meskipun ku coba tegarkan, namun jika berkali-kali dihantam yang ada malah hancur berkeping-keping. Sulit untuk menyatukannya kembali. Jikalaupun berhasil disatukan kembali, ada banyak sisinya yang tak sempurna.

Malam itu, suasana dingin menyelimuti tubuh. Langit dengan warna hitamnya, tanpa satupun bintang yang menemani. Layaknya menggambarkan bagaiamana keadaan hatiku pada saat itu, kelam. Pasalnya, ketika senja mulai menguning, dan mentari menenggelamkan diri di sudut bumi, lelaki itu menghampiriku dengan gelagat tak beres pertanda berita buruk yang akan ditimpalinya. Benar saja, telingaku tak sanggup mendengarnya, namun tanganku masih kupaksakan untuk menulis cerita ini.

Aku terpaku, terpojok dalam genggaman kegusaran. “Maafkan aku,” bisik lelaki itu. Nafasanya terasa begitu hangat ditelingaku. Pelukannya enggan ia lepaskan. Lagi, aku terpaku, dipelukannya.

Lama kami membeku. Aku mau pun dia tidak juga mengeluarkan kalimat apa pun. Hanya nafas kami yang beradu. Terasa berat. Setitik, dua titk, air mataku jatuh berlinang. Tak sanggup menahan sesaknya dada. Hingga sesunggukan, yang kurasakan hanya peluknya yang semakin erat.

Kembali aku bertanya kepada hati, “Maukah kau bertahan sebentar lagi? Percayalah, ini tak akan lama”. Aku semakin meringkuk dalam dekapannya. Sungguh aku ingin menyerah. Saat itu juga, aku ingin mengatakannya. Aku lelah, aku ingin berhenti.

***

Seakan waktu membawaku kembali pada kali pertama pertemuan kami. Aku tidak mengenalnya, begitupun dengan dia. Yang aku tau, aku akan dikenalkan dengan seseorang. Biasanya aku tidak begitu tertarik dengan proses saling mengenal seperti ini, beberapa kali temanku ingin mengenalkanku pada seseorang dan lagi-lagi aku harus menolaknya. Entah kenapa saat itu aku meng-iya-kan untuk mengenalnya. Tidak ada gambaran bagaimana dengan wajahnya, wataknya, atau apapun yang berhubungan dengannya. Sungguh, jantungku berdegup sangat kencang. Gejala nervous yang melanda sulit untuk tidak aku hiraukan. Sampai akhirnya kami saling berjabat tangan. Terasa tangannya begitu dingin, tidak tau lah apakah dia sama sepertiku yang grogi pada saat itu. Yang aku sadar, aku mulai menyukai senyumnya. Begitu cepatkah ini? Entahlah, sulit bagiku menjawab.

Dia menyetir dan aku duduk di kursi belakang. Posisiku bisa dengan mudah meliriknya secara diam-diam dari spion dalam mobil. Matanya begitu syahdu, tidak bosan untuk terus menatapnya dari tempatku. Dan aku pun menyukai matanya. Rasa apa ini? Tidak, tidak bisa secepat ini. Aku menegaskan pada hati bahwa kami belum terlalu mengenal. Bisa saja dia sudah memiliki kekasih dan ingin mengenalku hanya untuk dijadikan sebagai teman. Resiko memunculkan patah hati harus lebih dahulu aku singkirkan.

Ternyata tidak hanya berhenti pada hari itu saja. Beberapa hari setelahnya – bahkan entah berapa kali – kami tetap bertemu. Komunikasi yang intens, hingga rasa rindu yang meluap – jika dalam waktu yang lama aku tidak bisa melihat senyumnya, matanya, apapun tentang dia. Aku mencoba mengartikan perasaanku sendiri. Apakah ini benar yang disebut cinta? Ataukah hanya rasa nyaman karena beberapa saat sebelum bertemu dengannya hatiku dihancurkan?

Dan benar saja, aku jatuh cinta pada lelaki itu.

***

Lemas aku mengusap pipiku yang basah. Sedari tadi air mataku tak kunjung berhenti. Aku mulai menguatkan diri untuk mengungkapkan apa yang ingin kuutarakan. Ku tengadahkan wajahku, menatap matanya lekat. Susah payah kupaksa bibirku untuk mengeja. Namun, dia mulai membuka suara, menghancurkan keheningan beberapa saat tadi.

“Sayang, terimakasih untuk kesabaran kamu. Masa-masa tersulit yang kita lalui, kamu tetap disampingku. Maaf, jika beberapa waktu ada hal yang tidak sesuai keinginan kita terjadi.” Ucapnya lirih, sambil menatap mataku lekat. “Kamu jangan sedih lagi, badai itu sudah pergi, kita tetap pada rencana.” Jemarinya mengusir kegusaran yang sedari tadi menggenggamku. Tangisku pecah, sesak yang begitu menyiksa dadaku seketika hilang.

Aku berusaha mencerna kalimatnya, barangkali ada yang tidak ku mengerti. Sekali lagi aku menatap matanya, lekat, teramat dalam. Dia paham dengan tindakanku. Kepalanya hanya mengangguk isyarat meyakinkanku bahwa apa yang ku dengar memang benar.

Jatuh bangun yang kami rasakan seperti penguat untuk kedepannya. Bagaimana mungkin jika dalam satu hubungan hanya ingin menikmati momen terindahnya saja? Jika itu yang kami inginkan, mungkin ketika badai pertama kali datang menerpa, kami sudah bercerai berai. Saat masalah datang, aku dan dia saling meyakinkan bahwa ia datang bukan melemahkan, tapi memberi kekuatan untuk kita tetap bersama.

Lagi, aku memeluknya erat. Teramat erat, hingga tak sejengkalpun dari tubuh kami berjarak. Rencana yang sebelumnya berhamburan entah kemana, kini perlahan kembali pada bagiannya masing-masing. Satu hal yang harus aku dan dia pahami bahwa meskipun badai sudah berlalu, bisa saja ia kembali datang dengan hantaman yang lebih dahsyat lagi. Entah kapan, namun pasti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s